Senin, 01 Maret 2010

BAB II PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

BAB II
PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

Disusun Oleh : H. Idih Sutisna

A. Dua Pilar Pengetahuan


Pada hakikatnya penelitian adalah proses “bertanya menjawab”. Bermula pada mempertanyakan dan berakhir pada menjawab. Tetapi diantara bertanya dan menjawab terdapat suatu proses yang menentukan mutu jawaban yang diperoleh. Proses itu dilakukan secara deduksi dan induksi, sistematis, terkendali empiris, dan kritis. Menurut Babbie, ilmu pengetahuan itu berdiri di atas dua pilar.
Pilar yang pertama adalah logika atau rasionalitas, dan pilar yang kedua adalah pengamatan empiris. Karena ditopang oleh kedua pilar tersebut, maka ciri ilmu pengetahuan adalah logic empirical. Hubungan kedua pilar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Apabila kita berhadapan dengan teori ilmu pengetauan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Hubungan timbal balik antara teori dan praktek, diantara berfikir deduksi dan induksi, tidak boleh terputus, tetapi harus selalu dikembangkan.

Proses-proses Penelitian Ilmiah
Emory dan Cooper (1991) menjelaskan bahwa proses penelitian dimulai dengan kebutuhan yang mendorong dilaksankannya penelitian dan diakhiri dengan laporan hasil penelitiannya.Beberapa tahap awal dijelaskan sebagai berikut, yaitu kebutuhan untuk meneliti, masalah penelitian, dan rancangan penelitian.
Sedangkan proses penelitian menurut Huzaifah Hamid adalah Penelitian merupakan suatu siklus. Setiap tahapan akan diikuti oleh tahapan lain secara terus menerus. Tahapan-tahapan penelitian itu adalah:

•Identifikasi masalah
•Perumusan masalah
•Penelusuran pustaka
•Rancangan penelitian
•Pengumpulan data
•Pengolahan data
•Penyimpulan hasil

Tahapan ini hendaknya tidak dilihat sebagai lingkaran tertutup, tetapi sebagai suatu spiral yang semakin lama makin tinggi. Penyimpulan hasil suatu penelitian akan merupakan masukan bagi proses penelitian lanjutan, dan seterusnya.

Identifikasi masalah. Penelitian dimulai dari pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh seorang peneliti. Untuk ini diperlukan adanya motivasi yang berupa rasa ingin tahu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk melihat dengan jelas tujuan dan sasaran penelitian, perlu diadakan identifikasi masalah dan lingkungan masalah itu. Masalah penelitian selanjutnya dipilih dengan kriteria, antara lain apakah penelitian itu dapat memecahkan permasalahan, apakah penelitian itu dapat diteliti dari taraf kemajuan pengetahuan, waktu, biaya maupun kemampuan peneliti sendiri, dan lain-lain. Permasalahan yang besar biasanya dibagi menjadi beberapa sub-masalah. Substansi permasalahan diidentifisikasikan dengan jelas dan konkrit. Pengertian-pengertian yang terkandung didalamnya dirumuskan secara operasional. Sifat konkrit dan jelas ini, memungkinkan pertanyaan-pertanyaan yang diteliti dapat dijawab secara eksplisit, yaitu apa, siapa, mengapa, bagaimana, bilamana, dan apa tujuan penelitian. Dengan identifikasi yang jelas peneliti akan mengetahui variabel yang akan diukur dan apakah ada alat-alat untuk mengukur variabel tersebut.

Perumusan masalah. Setelah menetapkan berbagai aspek masalah yang dihadapi, peneliti mulai menyusun informasi mengenai masalah yang mau dijawab atau memadukan pengetahuannya menjadi suatu perumusan. Untuk itu, diperlukan perumusan tujuan penelitian yang jelas, yang mencakup pernyataan tentang mengapa penelitian dilakukan, sasaran penelitian, maupun perkiraan penggunaan dan dampak hasil penelitian. Permasalahan yang masih samar-samar dan diragukan mulai dipertegas dalam bentuk perumusan yang fungsional. Verbalisasi gagasangagasan dapat dirumuskan agar orang lain dapat memahaminya. Pandanganpandangan teori diuraikan secara jelas, sehingga mudah diteliti dan dapat dijadikan titik tolak penelitian. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan pembuatan model

Hipotesis merupakan salah satu bentuk konkrit dari perumusan masalah. Dengan adanya hipotesis, pelaksanaan penelitian diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Pada umumnya hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menguraikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan tak bebas gejala yang diteliti. Hipotesis mempunyai peranan memberikan arah dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan memandu ke arah penyelesaiannya secara lebih efisien. Hipotesis yang baik akan menghindarkan penelitian tanpa tujuan, dan pengumpulan data yang tidak relevan. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.

Penelusuran pustaka. Penelitian dimulai dengan penelusuran pustaka yang berhubungan dengan subyek penelitian tersebut. Penelusuran pustaka merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk penelitian. Penelusuran pustaka dapat menghindarkan duplikasi pelaksanaan penelitian. Dengan penelusuran pustaka dapat diketahui penelitian yang pernah dilakukan dan di mana hal itu dilakukan.

Rancangan penelitian. Rancangan penelitian mengatur sistematika yang akan dilaksanakan dalam penelitian. Memasuki langkah ini peneliti harus memahami berbagai metode dan teknik penelitian. Metode dan teknik penelitian disusun menjadi rancangan penelitian. Mutu keluaran penelitian ditentukan oleh ketepatan rancangan penelitian.

Pengumpulan data. Data penelitian dikumpulkan sesuai dengan rancangan penelitian yang telah ditentukan. Data tersebut diperoleh dengan jalan pengamatan, percobaan atau pengukuran gejala yang diteliti. Data yang dikumpulkan merupakan pernyataan fakta mengenai obyek yang diteliti.

Pengolahan data. Data yang dikumpulkan selanjutnya diklasifikasikan dan diorganisasikan secara sistematis serta diolah secara logis menurut rancangan penelitian yang telah ditetapkan. Pengolahan data diarahkan untuk memberi argumentasi atau penjelasan mengenai tesis yang diajukan dalam penelitian, berdasarkan data atau fakta yang diperoleh. Apabila ada hipotesis, pengolahan data diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Dari data yang sudah terolah kadangkala dapat dibentuk hipotesis baru. Apabila ini terjadi maka siklus penelitian dapat dimulai lagi untuk membuktikan hipotesis baru.

Penyimpulan hasil. Setiap kesimpulan yang dibuat oleh peneliti sematamata didasarkan pada data yang dikumpulkan dan diolah. Hasil penelitian tergantung pada kemampuan peneliti untuk menfasirkan secara logis data yang telah disusun secara sistematis menjadi ikatan pengertian sebab-akibat obyek penelitian. Setiap kesimpulan dapat diuji kembali validitasnya dengan jalan meneliti jenis dan sifat data dan model yang digunakan.

B. Tahap-Tahap dalam Proses Penelitian

Penelitian sebagai suatu proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analitis, dan terkendali. Tahap-tahap dalam proses itu teratur secara sistematis. Penelitian selalu dikendalikan oleh hipotesis-hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Berikut dikemukakan 10 tahap yang harus dilakukan secara sistematis dalam suatu penelitian empiris.

1.Konseptualisasi Masalah

Proses penelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut konseptualisasi masalah. Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam penelitian, karena semua jalannya penelitian akan dituntun oleh perumusan masalah. Tanpa konseptualisasi masalah yang jelas, maka peneliti akan kehilangan arah dalam melakukan penelitian.

2.Tujuan dan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari persoalan yang kita teliti. Perumusan hipotesis biasanya dibagai menjadi tiga tahapan: pertama, tentukan hipotesa penelitian yang didasari oleh asumsi penulis terhadap hubungan variable yang sedang diteliti. Kedua, tentukan hipotesa operasional yang terdiri dari Hipotesis 0 (H0) dan Hipotesis 1 (H1). H0 bersifat netral dan H1 bersifat tidak netral. Perlu diketahui bahwa tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.

Pertanyaan yang dirumuskan sebagai jawaban (sementara) terhadap pertanyaan itu disebut hipotesis penelitian. Tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis.

3.Kerangka Dasar Penelitian

Konsep-konsep yang tercakup dalam hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya itu adalah konsep-konsep yang tercakup dalam hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Karena itu kerangka dasar tersebut disebut kerangka hipotesis.

4.Penarikan Sampel

Hasil dari proses penarikan sampel Pertanyaan yang dirumuskan sebagai jawaban (sementara) terhadap pertanyaan itu disebut hipotesis penelitian. Tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis.
Pertanyaan yang dirumuskan sebagai jawaban (sementara) terhadap pertanyaan itu disebut hipotesis penelitian. Tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis..

5.Konstruksi Instrumen

Hal ini berhubungan dengan metode pengumpulan data dan alat-alat (instrument) yang digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut pengumpulan data dan konstruksi instrument. Instrument penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti pedoman wawancara, daftar kuesioner, pedoman pengamatan, dan sebagainya.

6.Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian. Dengan berkembangnya teknologi komputer yang semakin canggih dan dituntutnya melakukan penelitian secara lebih cepat serta kemungkinan besarnya jumlah data, maka seorang peneliti memerlukan bantuan komputer untuk melakukan analisa data.

7.Pengolahan Data

Pengolahan ini dilakukan dalam 3 tahap, yaitu editing (penyuntingan), coding (pemberian kode), dan menususn dalam master sheet (table induk)


8.Analisis Pendahuluan

Analisis data penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut.

9.Analisis Lanjut

Alat-alat analisis yang dipakai untuk ini disesuaikan dengan hipotesis operasional yang telah dirumuskan sebelumnya. Kalau hipotesis mencakup dua variable, maka dipergunakan Bivariate Analysis. Dan kalau mencakup lebih dari dua variabel, maka dipergunakan Multivariate analysis.

10.Interpretasi

Hasil analis ini kemudian diinterpretasikan melalui proses pembahasan. Tahap ini disebut analisis dan interpretasi hasil penelitian. Hasil terakhir adalah melaporkan hasil penelitian itu dalam bentuk tertulis.

C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi


Lima komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian :
1.Teori
2.Hipotesis
3.Pengamatan
4.Generalisasi empiris
5.Penerimaan atau penolakan hipotesis

Informasi-informasi tersebut ditemukan melalui 6 komponen metodologi, yaitu :
a.Deduksi Logic;
b.Interpretasi hipotesis, instrumentasi, skala pengukuran, sampling;
c.Penyederhanaan (dengan statistic, estimasi parameter);
d.Pembentukan teori dan proposisi;
e.Pengujian hipotesis;
f.Inferensial logis.

Kalau kita mulai dengan mempermasalahkan suatu teori (1), maka dari teori tersebut kita menurunkan hipotesis (2). Cara menurunkan hipotesis dari teori itu dilakukan dengan deduksi logis (a). Selanjutnya untuk membuktikan hipotesis dibutuhkan data sebagai hasil pengamatan (3). Informasi ini diperoleh dengan cara melakukan interpretasi terhapad hipotesis, menyusun instrument, menarik sampel, dan menetapkan pengukuran variabel (b). Berdasarkan data hasil pengamatan (3) ini ingin diketahuai apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak (5), dan di pihak lain ingin diperoleh informasi berupa generalisasi empiris (4). Penerimaan atau penolakan hipotesis berdasarkan data pengamatan itu dilakukan dengan analisis uji hipotesis (e).
Proses 11 komponen ini dapat pula dilihat dalam dua bagian.masing-masing dengan cara yang berbeda, yaitu,
Cara pertama : bagian kanan, dan kiri . kedua bagian ini dipisahkan oleh garis yang ditarik dari komponen teori (1). Bagian sebelah kanan ini terdiri atas teori – deduksi logis – interpretasi hipotesisi – sampling, skala pengukuran, instrument – pengamatan, yang dapat juga disebut sebagai proses menerapkan teori. Bagain sebelah kiri dimulai dari pengamatan – rangkuman – generalisasi empiris, pembentukan teori-teori yang di sebut sebagai proses pembentukan teori.
Cara kedua : bagian atas dan bagian bawah. Kedua bagian ini dipisahkan oleh garis mendatar yang ditarik dari komponen generalisasi. Empiris (4). ke komponen hipotesis (2), Bagian atas disebut proses berteori dengan metode logika, dan.bagian bawah disebut proses melakukan penelitian empiris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar